11teater_1LEONARDO DA VINCI KEDUA,

DICETAK PAKSA,

IMPIAN MENYAKITKAN 

BERBUAH KEMUSTAHILAN …

Kajpa Leonardo? adalah sebuah karya dari penulis asal Slovenia, Evard Flisar, yang diusung ceritanya oleh Teater Koma pada pertunjukkannya yang ke-112 sejak teater ini didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Maret 1977. Pementasan dalam rangka merayakan ulang tahun Teater Koma yang ke-31 berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada tanggal 11 s/d 25 Januari 2007 setiap pukul 19.30 WIB. Pementasan yang disutradarai oleh motor sekaligus pendiri salah satu kelompok teater terkemuka di

Indonesia

itu, Nano Riantiarno, dan dialihbahasakan oleh putra sulung Nano Riantiarno, Rangga Riantiarno, ini berawal dari sebuah naskah yang ditulis Flisar pada tahun 1993.

Kajpa Leonardo? yang kemudian dialihbahasakan menjadi Kenapa Leonardo? Ini adalah sebuah drama filsafat serius  sebagai sebuah upaya refleksi bagi diri kita sendiri. Naskah Flisar merupakan sebuah kisah komedi tragis yang ingin mengajak penonton melihat pergumulan antara "kenyataan" dan "khayalan". "Saya ingin menunjukkan betapa dekat jarak antara ‘kenyataan’ dan ‘khayalan’, dan betapa dalam khayalan kita mempengaruhi kehidupan sehari-hari," sebut Flisar seperti yang dikutip oleh Nano.

Kenapa Leonardo ? versi asli telah mendapatkan The Grum Award untuk The best play of the year, telah dipentaskan di Sadlers Wells Theatre in London’s West End, City Theatre in Reykjavik, Iceland, dan Pozorište Zorana Radmilovi*a, Zaje*ar, di Srbija, dan saat ini dipentaskan di Jakarta ini bercerita tentang sekumpulan pasien-pasien pada sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Dr Hopman (diperankan oleh Nano Riantiarno).

Ada

yang berpenyakit schizophrenia, ada yang perkembangan mentalnya terhenti pada usia tujuh tahun, ada yang indera penciumannya sangat tajam dan sebagainya. Namun demikian, karakter-karakter aneh itu ternyata memiliki kebutuhan yang sama. Mereka butuh cinta, pengakuan terhadap eksistensi, dan rasa aman. Tidak semua orang menyadari hal itu. Masalah mereka didiagnosa memiliki penyebab fisiologis, bukan psikologis, sehingga menurut Dr. Hopman, penyakit mereka tidak bisa disembuhkan.  Tetapi kemudian datanglah Dr. Da Silva (diperankan oleh Cornelia Agatha), seorang psikolog yang mencari subyek penelitian demi memperoleh gelar PhD, mempunyai pandangan lain.

Dr. Da Silva percaya bahwa ia bisa mengajari Martin (diperankan oleh Budi Ros) yang menderita amnesia total. Martin yang amnesia, ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk belajar dan mengingat sesuatu. Dr Da Silva ingin merubah Martin sebagai Leonardo baru yang mewakili kemajuan umat manusia. Ajaran Dr Da Silva memiliki kekuatan besar dan disadarinya dengan penuh penyesalan. Pihak militer dan politisi tertarik akan potensi yang dimiliki Martin untuk bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan. Matin menjadi kacau dan sama sekali tidak menyadari apa yang telah dilakukannya.

Menonton Kenapa Leonardo? Kita seolah-olah disadarkan dari kondisi yang terjadi di

Indonesia

. Saat ini banyak masyarakat yang sakit tetapi mereka tidak menyadarinya. Membeo terhadap keadaan yang terjadi tanpa sama sekali menyadari maksudnya dan kehilangan jati diri mereka yang sesungguhnya. Persis seperti yang terjadi dengan Martin. Ketika hukum kausalitas tidak lagi berlaku karena yang bersangkutan tidak bisa saling melihat, itulah kengerian dunia.

Coba saja tengok kondisi Indonesia saat ini. Berkorupsi, salah satu contohnya, sudah dianggap normal. Saking normalnya, orang yang tidak ada kecenderungan untuk melakukan korupsi dikatakan sebagai ’orang aneh’ atau ’sakit’ dan tidak berbudaya. Korupsi saat ini sudah berakar kuat sampai ke segala aspek. Banyak hal yang melibatkan praktek korupsi pada keseharian kita dan bahkan kita sendiri tidak punya kuasa untuk berupaya merubahnya. Mungkin lebih baik menjadi Martin yang membeo saja tanpa punya kekuatan untuk bangkit dan melawan.

”Dunia ini panggung sandiwara”, kata GodBless. Dalam banyak hal, kita seringkali terjebak oleh khayalan yang diciptakan oleh masyarakat atau lingkungan di mana kita berada. Padahal bisa jadi apa yang kita lihat, kita dengar, kita sentuh adalah bukan yang sesungguhnya terjadi. Kita sering bertengkar tanpa kita mengerti duduk persoalannya. Kita sering tidak sependapat tentang sesuatu hal padahal kita tidak mengerti apa yang diperdebatkan. Kita sakit jiwa tapi tidak menyadarinya.

Masyakat masa kini dibentuk oleh tuntutan-tuntutan yang sukar dipenuhi, sehingga lahirlah masyarakat yang sakit. Kenapa Leonardo? adalah wadah kita untuk mempertimbangkan apakah kita akan terus menjadi penonton atau segera tersadar sejak dini. Korbankah kita atau malah jangan-jangan kita sendiri penyebabnya? Kenapa Leonardo? adalah sebuah cermin untuk melihat ke dalam diri kita sendiri apakah kita ini gila seperti yang dituduhkan orang lain ataukah sesungguhnya kita sadar dalam melakukan segala kegiatan kita? Seperti juga pasien di rumah sakit gila yang begitu bahagia dengan kondisi yang mereka miliki, bahkan jangan-jangan kita yang melihat mereka sebagai sekelompok orang gila. Padahal mereka adalah sekumpulan orang yang waras dengan berbagai kelebihan yang mereka miliki.

Begitulah seringkali kita memandang orang lain sebagai seseorang yang ‘tidak benar’. Tentu saja ‘tidak benar’ dalam kacamata kita sendiri. Kita seringkali menghujat seseorang itu salah dan merasa punya kuasa untuk merubahnya menjadi seseorang yang lain. Persis seperti Martin yang diubah menjadi Leonardo. Kita seringkali terlupa bahwa sesungguhnya setiap orang memiliki kelebihan dengan caranya masing-masing. Kebahagiaan akan muncul jika kita menyadari semua perbedaan itu dan menanfaatkannya untuk kemaslahatan ummat manusia [RN, 130108].

***

Ayo cari tahu tentang Evard Flisar disini : http://www.angelfire.com/nt2/nora/evald_flisar.html

Sekilas tentang Teater Koma :

TEATER KOMA Didirikan di Jakarta, 1 Maret 1977.

Hingga 2007, TEATER KOMA sudah menggelar 111 pementasan, baik di televisi maupun di panggung. Sering juga melakukan kiprah kreatifitasnya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, TVRI dan Gedung Kesenian Jakarta.

Perkumpulan Kesenian yang bersifat non-profit ini, mengawali kegiatan dengan 12 seniman (kemudian disebut sebagai Angkatan Pendiri). Kini, kelompok didukung oleh sekitar 30 anggota aktif dan 50 anggota yang langsung bergabung jika waktu dan kesempatannya memungkinkan.

Teater Koma banyak mementaskan karya-karya N. Riantiarno. Antara lain; Rumah Kertas, Maaf.Maaf.Maaf., J.J, Kontes 1980, Trilogi Opera Kecoa (Bom Waktu, Opera Kecoa, Opera Julini), Opera Primadona, Sampek Engtay, Banci Gugat, Konglomerat Burisrawa, Pialang Segi Tiga Emas, Suksesi, RSJ atau Rumah Sakit Jiwa, Semar Gugat, Opera Ular Putih, Opera Sembelit, Samson Delila, Presiden Burung-Burung, Republik Bagong.

Juga menggelar karya para dramawan kelas dunia; The Comedy of Error dan Romeo Juliet karya William Shakespeare, Woyzeck/Georg Buchner, The Three Penny Opera dan The Good Person of Shechzwan/Bertolt Brecht, Orang Kaya Baru-Kena Tipu-Doea Dara-Si Bakil-Tartuffe/Moliere, Women in Parliament/Aristophanes, The Crucible/Arthur Miller, The Marriage of Figaro/Beaumarchaise, Animal Farm/George Orwell, Ubu Roi/Alfred Jarre, The Robber/Freidrich Schiller.

Teater Koma, kelompok teater yang independen dan bekerja lewat berbagai pentas yang mengkritisi situasi-kondisi sosial-politik di tanah air. Dan sebagai akibat, harus menghadapi pelarangan pentas serta pencekalan dari pihak yang berwewenang. Berbagai upaya juga dilakukan lewat ‘program apresiasi’ (PASTOJAK, Pasar Tontonan Jakarta, yang digelar selama sebulan penuh di PKJ-TIM, Agustus 1997, diikuti oleh 24 kelompok kesenian dari dalam dan luar negeri). Kelompok senantiasa berupaya bersikap optimistis. Berharap teater berkembang dengan sehat, bebas dari interes-politik praktis dan menjadi tontonan yang dibutuhkan berbagai kalangan masyarakat.

Teater Koma yakin, teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. Jujur, bercermin lewat teater, diyakini pula sebagai salah satu cara untuk menemukan kembali akal sehat- budi-nurani.