Post_thumb Cinta memang abstrak dan tidak mudah untuk digambarkan. Ia ada dan bisa dirasakan. Ia adalah kebutuhan. Namun bila kita sudah tidak menginginkannya sekalipun, cinta tetap ada disana, menunggu siapapun yang membutuhkannya.

Film produksi 13 Entertainment ini menggambarkan keluasan cinta. Betapa cinta yang hadir itu menyelimuti seseorang dengan cara yang berbeda-beda.  Love adalah sebuah film yang disutradarai oleh Kabir Bhatia yang sudah berpengalaman selama 15 tahun di industri Film & TV sebagai Produser Lini, Produser Eksekutif dan Sutradara di India dan di Malaysia. Film terakhir yang di sutradarainya menerima 10 nominasi dan menang Film dan Skrip Terbaik di Festival Film Malaysia. Kabir Bhatia berhasil menonjolkan sisi lain Jakarta dengan pengambilan gambar berbeda seperti yang biasa dilakukan dalam film sejenis lainnya.

Co Sutradara sekaligus penulis cerita film ini adalah Titien Wattimena. Dua karyanya "Mengejar Matahari" dan "Tentang Dia" mendapat nominasi skenario terbaik FFI 2004 dan 2005. Karya-karyanya yang lain adalah "Cinta Pertama", "D’Bijis", "Badai Pasti Berlalu".

Yang paling menarik di sepanjang film ini adalah soundtrack film yang digarap habis-habisan oleh Erwin Gutawa dan Bulgarian Symphony Orchestra.  Lagu Sempurna yang aslinya dilantunkan oleh Andra & The Backbone menjadi berbeda karena dinyanyikan oleh seorang penyanyi wanita. (Gita Gutawa-kah?)

Adalah Nugroho (Sophan Sophiaan) dan Lestari (Widyawati) yang dipertemukan di usia mereka yang tidak lagi muda. Nugroho yang menderita alzhaimer, dan Lestari yang dengan kasih sayang menerima keadaan itu. Ternyata cinta tidak lekang dimakan waktu dan tidak hilang karena usia.

Adalah Rama (Fauzi Baadilla), lelaki muda sederhana yang bekerja di percetakan, dan Iin (Acha Septriasa) yang dibantu Rama selama pencarian kekasihnya di Jakarta. Masa lalu yang hampir sama, mempersatukan mereka, membuat mereka berani mengejar hari esok. Cinta tidak akan pergi walaupun seseorang itu mengikhlaskan dirinya untuk melepaskan seseorang yang disayangi.

Adalah Tere (Darius Sinathrya) dan Awin (Luna Maya). Penulis wanita yang sukses bertemu dengan penjaga toko buku dan jatuh cinta. Ketika kemudian ketakutan Awin untuk mencintai muncul, Tere sebaliknya membuka mata Awin bahwa cinta tak semestinya dibatasi.

Adalah Restu (Irwansyah) dan Dinda (Laudya Cintya Bella). Seorang mahasiswa yang menjalani hidup dengan santai dan riang, jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun pertemuan mereka hanya sebentar dan Dinda akhirnya pergi untuk selama-lamanya, cinta mereka tetap ada dan tidak ikut mati.

Adalah Gilang (Surya Saputra) dan Miranda (Wulan Guritno), pasangan muda yang memasuki usia pernikahan delapan tahun, dengan anak mereka Icha, seorang anak autism yang membutuhkan kedua orangtuanya melewati hidup yang tak mudah. Sementara Gilang dan Miranda sendiri harus menerima kenyataan bahwa pernikahan mereka pun punya masalah. Pada akhirnya ketika Gilang merelakan Miranda pergi, dia menemukan cinta sejati di suatu hari yang tak terduga.

Adalah takdir yang mempertemukan mereka, di tengah belantara kota Jakarta, bertemu-persimpangan hidup yang penuh kejutan, dituntun oleh sesuatu yang selama ini dibilang buta padahal ia punya mata yang tidak dimiliki manusia… CINTA…

trailernya bisa dilihat disini http://www.themovielove.com/

Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujimu

Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

[Reff:]
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna… Sempurna…

Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

[Reff:]
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna… Sempurna…

Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

(lyrics by Andra & The Backbone)

Download ringtone disini

>

Jangan lupa menontonnya. [RN, 210208]

</object

“You came here because you needed too”Heroes_1

“You need to hear the truth before you can save the world”

“I save the world?”

“You have got all the power you have, Peter. You just need to learn how to use it.”

“Why me?”

“Because there has to be one that’s good, there always has and your heart has the ability to love unconditionally.”

Heroes adalah sebuah serial saga tentang orang-orang di seluruh dunia yang menemukan kenyataan bahwa diri mereka memiliki kemampuan khusus (superpowers) dan dengan kemampuannya ini mereka berusaha mengubah dunia menjadi lebih baik.

Diantara mereka, ada Peter Petrelli (30), seorang perawat yang bisa menyerap kemampuan orang lain, Issac Mendez (28), seorang junkie yang bisa menggambar keadaan masa depan,  Niki Sanders (33) seorang penari Las Vegas yang memiliki kepribadian ganda, Hiro Nakamura (24) seorang pecinta komik yang bisa menghentikan waktu dan melakukan time travelling, DL Hawkins (31) seorang narapidana yang bisa berjalan menembus dinding, Matt Parkman, seorang polisi yang bisa membaca pikiran orang lain, dan Claire Bennet (17) seorang cheerleader yang bisa menyembuhkan diri sendiri. Bersama-sama, mereka bergandengan tangan untuk menyelamatkan dunia.

Pada seasons kedua saga Heroes ini, diceritakan bagaimana para tokohnya beradaptasi dengan dunia normal. Matt Parkman yang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, kini bekerja untuk FBI, sementara Hiro Nakamura terlempar jauh ke jaman Takeshi Kensei dan berusaha memperbaiki kekacauan disana, sedangkan Peter Petrelli ditemukan terkunci di sebuah gudang kosong. Pada serial baru ini mereka menghadapi tantangan baru yang lebih mendebarkan. Disamping itu juga banyak tokoh-tokoh baru yang bermunculan untuk menyemarakkan serial ini, diantaranya sepasang kembar laki-laki dan perempuan, Maya dan Alejandro Herrera. Maya bisa membunuh orang hanya dengan tatapan mata, sedangkan Alejandro bisa menormalkan kembali keadaan yang dibuat oleh kakaknya itu.

Float, sebuah band Indie dari Indonesia, turut mewarnai musik-musik thriller di seasons 2 ini dengan membawakan lagu Surrender.

Heroes bisa ditonton di Star TV setiap hari Selasa pukul 20.00 WIB atau Rabu pukul 11.00 WIB.

http://www.nbc.com/Heroes/dvd/

http://www.startv.com/world/heroes/nissan/episode.htm

11teater_1LEONARDO DA VINCI KEDUA,

DICETAK PAKSA,

IMPIAN MENYAKITKAN 

BERBUAH KEMUSTAHILAN …

Kajpa Leonardo? adalah sebuah karya dari penulis asal Slovenia, Evard Flisar, yang diusung ceritanya oleh Teater Koma pada pertunjukkannya yang ke-112 sejak teater ini didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Maret 1977. Pementasan dalam rangka merayakan ulang tahun Teater Koma yang ke-31 berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada tanggal 11 s/d 25 Januari 2007 setiap pukul 19.30 WIB. Pementasan yang disutradarai oleh motor sekaligus pendiri salah satu kelompok teater terkemuka di

Indonesia

itu, Nano Riantiarno, dan dialihbahasakan oleh putra sulung Nano Riantiarno, Rangga Riantiarno, ini berawal dari sebuah naskah yang ditulis Flisar pada tahun 1993.

Kajpa Leonardo? yang kemudian dialihbahasakan menjadi Kenapa Leonardo? Ini adalah sebuah drama filsafat serius  sebagai sebuah upaya refleksi bagi diri kita sendiri. Naskah Flisar merupakan sebuah kisah komedi tragis yang ingin mengajak penonton melihat pergumulan antara "kenyataan" dan "khayalan". "Saya ingin menunjukkan betapa dekat jarak antara ‘kenyataan’ dan ‘khayalan’, dan betapa dalam khayalan kita mempengaruhi kehidupan sehari-hari," sebut Flisar seperti yang dikutip oleh Nano.

Kenapa Leonardo ? versi asli telah mendapatkan The Grum Award untuk The best play of the year, telah dipentaskan di Sadlers Wells Theatre in London’s West End, City Theatre in Reykjavik, Iceland, dan Pozorište Zorana Radmilovi*a, Zaje*ar, di Srbija, dan saat ini dipentaskan di Jakarta ini bercerita tentang sekumpulan pasien-pasien pada sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Dr Hopman (diperankan oleh Nano Riantiarno).

Ada

yang berpenyakit schizophrenia, ada yang perkembangan mentalnya terhenti pada usia tujuh tahun, ada yang indera penciumannya sangat tajam dan sebagainya. Namun demikian, karakter-karakter aneh itu ternyata memiliki kebutuhan yang sama. Mereka butuh cinta, pengakuan terhadap eksistensi, dan rasa aman. Tidak semua orang menyadari hal itu. Masalah mereka didiagnosa memiliki penyebab fisiologis, bukan psikologis, sehingga menurut Dr. Hopman, penyakit mereka tidak bisa disembuhkan.  Tetapi kemudian datanglah Dr. Da Silva (diperankan oleh Cornelia Agatha), seorang psikolog yang mencari subyek penelitian demi memperoleh gelar PhD, mempunyai pandangan lain.

Dr. Da Silva percaya bahwa ia bisa mengajari Martin (diperankan oleh Budi Ros) yang menderita amnesia total. Martin yang amnesia, ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk belajar dan mengingat sesuatu. Dr Da Silva ingin merubah Martin sebagai Leonardo baru yang mewakili kemajuan umat manusia. Ajaran Dr Da Silva memiliki kekuatan besar dan disadarinya dengan penuh penyesalan. Pihak militer dan politisi tertarik akan potensi yang dimiliki Martin untuk bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan. Matin menjadi kacau dan sama sekali tidak menyadari apa yang telah dilakukannya.

Menonton Kenapa Leonardo? Kita seolah-olah disadarkan dari kondisi yang terjadi di

Indonesia

. Saat ini banyak masyarakat yang sakit tetapi mereka tidak menyadarinya. Membeo terhadap keadaan yang terjadi tanpa sama sekali menyadari maksudnya dan kehilangan jati diri mereka yang sesungguhnya. Persis seperti yang terjadi dengan Martin. Ketika hukum kausalitas tidak lagi berlaku karena yang bersangkutan tidak bisa saling melihat, itulah kengerian dunia.

Coba saja tengok kondisi Indonesia saat ini. Berkorupsi, salah satu contohnya, sudah dianggap normal. Saking normalnya, orang yang tidak ada kecenderungan untuk melakukan korupsi dikatakan sebagai ’orang aneh’ atau ’sakit’ dan tidak berbudaya. Korupsi saat ini sudah berakar kuat sampai ke segala aspek. Banyak hal yang melibatkan praktek korupsi pada keseharian kita dan bahkan kita sendiri tidak punya kuasa untuk berupaya merubahnya. Mungkin lebih baik menjadi Martin yang membeo saja tanpa punya kekuatan untuk bangkit dan melawan.

”Dunia ini panggung sandiwara”, kata GodBless. Dalam banyak hal, kita seringkali terjebak oleh khayalan yang diciptakan oleh masyarakat atau lingkungan di mana kita berada. Padahal bisa jadi apa yang kita lihat, kita dengar, kita sentuh adalah bukan yang sesungguhnya terjadi. Kita sering bertengkar tanpa kita mengerti duduk persoalannya. Kita sering tidak sependapat tentang sesuatu hal padahal kita tidak mengerti apa yang diperdebatkan. Kita sakit jiwa tapi tidak menyadarinya.

Masyakat masa kini dibentuk oleh tuntutan-tuntutan yang sukar dipenuhi, sehingga lahirlah masyarakat yang sakit. Kenapa Leonardo? adalah wadah kita untuk mempertimbangkan apakah kita akan terus menjadi penonton atau segera tersadar sejak dini. Korbankah kita atau malah jangan-jangan kita sendiri penyebabnya? Kenapa Leonardo? adalah sebuah cermin untuk melihat ke dalam diri kita sendiri apakah kita ini gila seperti yang dituduhkan orang lain ataukah sesungguhnya kita sadar dalam melakukan segala kegiatan kita? Seperti juga pasien di rumah sakit gila yang begitu bahagia dengan kondisi yang mereka miliki, bahkan jangan-jangan kita yang melihat mereka sebagai sekelompok orang gila. Padahal mereka adalah sekumpulan orang yang waras dengan berbagai kelebihan yang mereka miliki.

Begitulah seringkali kita memandang orang lain sebagai seseorang yang ‘tidak benar’. Tentu saja ‘tidak benar’ dalam kacamata kita sendiri. Kita seringkali menghujat seseorang itu salah dan merasa punya kuasa untuk merubahnya menjadi seseorang yang lain. Persis seperti Martin yang diubah menjadi Leonardo. Kita seringkali terlupa bahwa sesungguhnya setiap orang memiliki kelebihan dengan caranya masing-masing. Kebahagiaan akan muncul jika kita menyadari semua perbedaan itu dan menanfaatkannya untuk kemaslahatan ummat manusia [RN, 130108].

***

Ayo cari tahu tentang Evard Flisar disini : http://www.angelfire.com/nt2/nora/evald_flisar.html

Sekilas tentang Teater Koma :

TEATER KOMA Didirikan di Jakarta, 1 Maret 1977.

Hingga 2007, TEATER KOMA sudah menggelar 111 pementasan, baik di televisi maupun di panggung. Sering juga melakukan kiprah kreatifitasnya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, TVRI dan Gedung Kesenian Jakarta.

Perkumpulan Kesenian yang bersifat non-profit ini, mengawali kegiatan dengan 12 seniman (kemudian disebut sebagai Angkatan Pendiri). Kini, kelompok didukung oleh sekitar 30 anggota aktif dan 50 anggota yang langsung bergabung jika waktu dan kesempatannya memungkinkan.

Teater Koma banyak mementaskan karya-karya N. Riantiarno. Antara lain; Rumah Kertas, Maaf.Maaf.Maaf., J.J, Kontes 1980, Trilogi Opera Kecoa (Bom Waktu, Opera Kecoa, Opera Julini), Opera Primadona, Sampek Engtay, Banci Gugat, Konglomerat Burisrawa, Pialang Segi Tiga Emas, Suksesi, RSJ atau Rumah Sakit Jiwa, Semar Gugat, Opera Ular Putih, Opera Sembelit, Samson Delila, Presiden Burung-Burung, Republik Bagong.

Juga menggelar karya para dramawan kelas dunia; The Comedy of Error dan Romeo Juliet karya William Shakespeare, Woyzeck/Georg Buchner, The Three Penny Opera dan The Good Person of Shechzwan/Bertolt Brecht, Orang Kaya Baru-Kena Tipu-Doea Dara-Si Bakil-Tartuffe/Moliere, Women in Parliament/Aristophanes, The Crucible/Arthur Miller, The Marriage of Figaro/Beaumarchaise, Animal Farm/George Orwell, Ubu Roi/Alfred Jarre, The Robber/Freidrich Schiller.

Teater Koma, kelompok teater yang independen dan bekerja lewat berbagai pentas yang mengkritisi situasi-kondisi sosial-politik di tanah air. Dan sebagai akibat, harus menghadapi pelarangan pentas serta pencekalan dari pihak yang berwewenang. Berbagai upaya juga dilakukan lewat ‘program apresiasi’ (PASTOJAK, Pasar Tontonan Jakarta, yang digelar selama sebulan penuh di PKJ-TIM, Agustus 1997, diikuti oleh 24 kelompok kesenian dari dalam dan luar negeri). Kelompok senantiasa berupaya bersikap optimistis. Berharap teater berkembang dengan sehat, bebas dari interes-politik praktis dan menjadi tontonan yang dibutuhkan berbagai kalangan masyarakat.

Teater Koma yakin, teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. Jujur, bercermin lewat teater, diyakini pula sebagai salah satu cara untuk menemukan kembali akal sehat- budi-nurani.

Wallpaper1Avatar, The last airbender - Book 3, semakin seru saja. Ba Sing Sei yang baru saja jatuh ke tangan Negara Api telah ditinggalkan oleh Katara, Sokka, Toph dan Aang. Bahkan Aang terluka parah pada pertempurannya yang terakhir, melawan Azula.

Aang yang diselamatkan oleh Katara, tidak sadarkan diri selama beberapa minggu dan menjalani perawatan dari Katara. Kini ia tidak lagi botak. Meskipun sudah semakin membaik keadaannya, Aang masih harus memulihkan diri, terutama memulihkan kepercayaan dirinya untuk dapat bertempur melawan Fire Lords.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Negara Api dan menyamar sebagai penduduk koloni Negara Api. Aang harus menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya karena saat itu ia sudah dianggap mati oleh Negara Api. Aang mendaftar di Fire Nation School sementara Sokka dan Katara menyamar menjadi orang tuanya. 

Sambil menyusuri Negara Api, mereka tiba di sebuah desa dimana Katara berkesempatan membantu menyembuhkan penduduk yang sakit dengan menyamar sebagai The Painted Lady. Mereka akhirnya dapat membangkitkan semangat penduduk desa untuk menolong diri mereka sendiri dengan membersihkan desa dari polutan pabrik Negara Api.

Sokka yang tidak percaya diri karena dirinya bukan salah satu "Pengendali" akhirnya menemukan seorang Master yang mengajarkannya Ilmu Pedang. Sokka kini menjadi Sword Master dan pulih kepercayaan dirinya untuk dapat membantu Aang melawan Fire Lords Ozai.

Sementara Zukko, Mai, Azula dan Ty Lee berlibur di Beach House, Sokka, Katara, Toph dan Aang dikejar-kejar oleh The Combustion Man yang ternyata diutus oleh Zuko untuk membunuh Avatar. Tentu saja, mereka dapat melarikan diri dari kejarannya.

Dalam pelariannya, sahabat-sahabat kita bertemu dengan seorang Pengendali Air dari Suku Air Selatan. Di Episode ini Katara menyadari bahwa menjadi Pengendali Air bisa berada pada "Bad Side" dimana ia bisa menggunakan kemampuannya sebagai Pengendali Air untuk mengendalikan manusia. Benar, di dalam tubuh manusia mengandung 80% air dan kandungan air ini (juga darah) bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan manusia. Katara berhasil menguasai Blood Bender, meskipun ia tidak menginginkannya.

Di sebuah desa, mereka bertemu dengan rombongan ayah Katara dan Sokka, Hakoda. Bersama mereka, bergabung pula rombongan Earth Bender, yaitu Swamp Bender. Semuanya bersiap untuk menghadapi invasion ke Kerajaan Api tepat pada saat gerhana matahari berlangsung. Aang stress berat karena beratnya tugas untuk mengalahkan Fire Lords Ozai sedangkan ia menyadari bahwa dirinya sama sekali belum menguasai Fire Bender. 

Ayo jangan ketinggalan menonton Book 3 yang semakin seru ini. [RN, 291207]

Bartimaeus1Nataniel adalah seorang anak berusia 5 tahun yang dijual oleh orang tuanya kepada pemerintah untuk dididik sebagai seorang calon penyihir. Ia kemudian dibesarkan oleh keluarga  penyihir bernana Arthur Underwood yang telah dipilih oleh pemerintah untuk mendidiknya. Nataniel sangat suka belajar ilmu sihir dan cepat sekali mengingat berbagai mantra-mantra sederhana. Sayangnya kesukaannya ini tidak diimbangi oleh ayah angkatnya, karena Arthur tidak ingin Nataniel terlalu menguasai ilmu kepenyihiran dan mengalahkan kemampuan ayah angkatnya sendiri. Meski demikian, Nataniel tidak pernah patah semangat dalam belajar.

Untuk dapat lulus sebagai seorang penyihir yang diakui oleh komunitas penyihir, Nataniel harus mempertunjukkan kemampuannya dalam menggunakan ilmu sihir, termasuk memanggil beragam jin, imp, dan makhluk halus lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya menyihir. Nataniel tentu saja tidak ingin gagal dalam tesnya nanti, sehingga secara diam-diam ia memanggil jinnya yang pertama : Bartimaeus.

Bartimaeus adalah jin berusia 5,000 tahun yang jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk melayani manusia. Kekuatannya sangat dahsyat dan diperlukan energi pemanggilan yang cukup kuat untuk bisa memanggil jin sekelas Bartimaeus.

Tetapi Nataniel berhasil melakukannya.

Nataniel sengaja memanggil Bartimaeus agar jin itu dapat membalaskan dendamnya kepada seorang penyihir kawakan yang sombong, bernama Simon Lovelace. Penyihir ini telah membunuh ayah dan ibu angkatnya dan nyaris membunuh dirinya.

Nataniel meminta Bartimaeus untuk mencuri Amulet Samarkand milik  Simon agar sang pemiliknya menjadi malu karena Amulet kesayangannya dapat dicuri dengan begitu mudah oleh seorang calon penyihir seperti Nataniel.  Ia sama sekali tidak menyadari fungsi dari Amulet Samarkand dan betapa berharganya barang tersebut.

Bartimaeus2Menginjak usia 14 tahun, Nataniel yang diasuh oleh seorang penyihir yang bekerja di kantor pemerintah. Nataniel pun menjadi penyihir termuda yang bekerja disana. Berbagai tugas kepemerintahan diserahkan kepada Nataniel dan seperti biasa, dengan kepintarannya, Nataniel dapat menyelesaikan tugasnya.

Melanjutkan seri pertamanya dimana pemerintah saat itu banyak diganggu oleh kaum resistance, maka di seri kedua inipun Nataniel diminta untuk menyelidiki kaum ini dan mencari cara untuk menyingkirkannya. Untuk itu, Nataniel terpaksa harus kembali meminta jin Bartimaeus untuk membantunya.

Kaum resistance adalah kelompok manusia yang tidak bisa menggunakan ilmu sihir, sehingga mereka tidak bisa menggunakan kekuatan makhluk halus untuk membantu mereka. Namun demikian, beberapa diantara kaum resistance ini memiliki kekuatan khusus yang bisa mendeteksi kehadiran makhluk halus diantara mereka, bisa mendeteksi perangkap sihir yang diletakkan oleh para penyihir. Dengan kekuatan seperti ini, kaum resistance berusaha mengalahkan kaum penyihir.

Bartimaeus3 Perbedaan The Bartimaeus Trilogy dengan buku penyihir lainnya seperti Harry Potter dan lainnya adalah bahwa buku ini menunjukkan sudut pandang tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Pembaca bisa mengetahui bagaimana tokoh lainnya berpikir sehingga buku ini menjadi semakin menarik.

dalam novel-novel ini, Stroud memutarbalikkan stereotipe tentang "penyihir baik" dan "setan jahat". Tokoh utamanya justru jin berusia 5,000 tahun yang sarkastik dan egomaniak bernama Bartimaeus dan penyihir muda bernama Nataniel.

Novel-Novel yang memenangkan "Grand Prix de l’imaginaire" tahun 2006, penghargaan dari Prancis untuk karya fantasi dan fiksi ilmiah, ceritanya akan difilmkan oleh Miramax/Disney dan direncanakan beredar tahun 2009. the Bartimaeus Trilogy ini sangat berbeda dengan buku-buku cerita lain tentang penyihir. Ketika demam Harry Potter menghinggapi para penulis novel, Jonathan Stroud yang lahir tahun 1970 di Bedford, Inggris ini justru membuat cerita yang berbeda.

Ayo baca segera, jangan ketinggalan! [RN, 130907]

Prison Break - Season One Prison Break - Season Two

Semula, aku mengira serial TV ini adalah tontonan yang membosankan karena berkutat dengan persoalan penjara Amerika yang sudah diketahui publik, selalu mengandung kekerasan dan abusement. Tetapi adikku dan teman sekantorku berkeras menceritakan betapa serunya serial ini.

PRISON BREAK ternyata memang berbeda.

Serial ini bercerita tentang Lincoln Burrows (Dominic Purcell), seorang narapidana mati yang sedang menunggu hari eksekusinya di penjara Fox River State Penitentiary. Ia dituduh membunuh adik dari Wakil President Amerika Serikat dan semua bukti memberatkan dirinya.

Adiknya, Michael Scofield (Wentworth Miller), adalah seorang genius yang bekerja di perusahaan konstruksi dan mengetahui seluk beluk penjara River State Penitentiary. Ia punya ide gila untuk mengeluarkan sang kakak dari penjara dan menyelamatkannya dari ancaman eksekusi, karena percaya bahwa sang kakak tidak membunuh sang wakil presiden dan ia hanya dijebak oleh sebuah organisasi terselubung.

Untuk mewujudkan impiannya, Michael lantas men-tatoo sekujur badannya dengan blue print denah penjara tempat kakaknya dipenjara. Tatoo yang dibuatnya begitu tersamar sehingga tidak sembarang orang bisa mengenali pola tatoo yang dimilikinya. Lalu Michael secara sengaja merampok sebuah bank pada tengah hari sehingga ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara yang sama dengan kakaknya.

Di dalam penjara, ia bekerja sama dengan rekan satu selnya, FERNANDO SUCRE (Amaury Nolasco) yang mendambakan calon istrinya setiap waktu, JOHN ABRUZZI (Peter Stormare) mantan bos mafia, “T-BAG” (Robert Knepper) seorang pedofilia, “C-NOTE” (Rockmond Dunbar) dan CHARLES WESTMORELAND (Muse Watson), seorang yang dipercayai Michael sebagai D.B.Cooper, seorang pembajak pesawat terbang yang memiliki dana tak terbatas.

Selain itu, Michael juga didukung oleh seorang pengacara bernama VERONICA DONOVAN (Robin Tunney) yang juga bekas pacar kakaknya. Veronika melindungi anak satu-satunya dari Lincoln, bernama LJ (Marshall Allman).

Pencarian Veronica bermuara langsung ke White House dan melibatkan Secret Service Agent PAUL KELLERMAN (Paul Adelstein) dan CAROLINE REYNOLDS (Patricia Wettig) istri wakil presiden yang ambisius dengan kekuasaan. Padahal adiknya yang dinyatakan telah dibunuh oleh Lincoln ternyata masih hidup. 

Pelarian dari penjara adalah awal dari segalanya. Michael terpaksa mengkhianati kepercayaan pimpinan penjara Warden HENRY POPE (Stacy Keach) dan dokter penjara SARA TANCREDI (Sarah Wayne Callies).

PRISON BREAK di produseri oleh Brett Ratner (“X Men: The Last Stand,” “Rush Hour”), Paul Scheuring, Matt Olmstead, Kevin Hooks, Marty Adelstein, Dawn Parouse and Neal Moritz saat ini sudah masuk ke season 3 di Amerika Serikat.  Di Indonesia, tayangan produksi Adelstein-Paraouse Production yang bekerjasama dengan 20th Century Fox Production ini sudah bisa disaksikan di ANTV setiap Jumat Malam, jam malam.

Production Companies
20th Century Fox Television
Adelstein-Parouse Productions
Original Television

Executive Producers
Paul Scheuring
Matt Olmstead
Kevin Hooks
Dawn Parouse
Marty Adelstein
Neal Moritz
Brett Ratner

Cast
Wentworth Miller as Michael Scofield
Dominic Purcell as Lincoln Burrows
Robin Tunney as Veronica Donovan
Amaury Nolasco as Fernando Sucre
Wade Williams as Captain Brad Bellick
Peter Stormare as John Abruzzi
Paul Adelstein as Agent Paul Kellerman
Robert Knepper as T-Bag
Rockmond Dunbar as C-Note
Marshall Allman as LJ
And
Sarah Wayne Callies as Dr. Sara Tancredi

Guest Cast
Stacy Keach as Warden Henry Pope
Patricia Wettig as Vice President Caroline Reynolds

Link : http://www.fox.com/prisonbreak/

The 4400 - The Complete First Season

Science Fiction sampai kapanpun akan tetap menjadi tontonan favoritku di rumah. Kehebatan suara dan efek, ide yang cemerlang, kehebatan teknologi yang dimunculkan, hanyalah beberapa dari keunggulan sebuah film science fiction.

The 4400 adalah sebuah serial TV bergenre science fiction. Sayangnya tontonan ini baru ditayangkan di USA Network, Amerika Serikat dan belum ditayangkan di stasiun TV manapun di Indonesia.

Diceritakan bahwa ada sebanyak 4400 orang yang telah menghilang dari kehidupannya sehari-hari dan kembali melalui sebuah bola cahaya yang sangat besar di tengah sebuah danau di Washington State.  Mereka yang kembali ini tidak dapat mengingat kenapa mereka menghilang dan apa yang terjadi dengan mereka selama ini. Namun demikian, mereka semua kembali dengan kemampuan supranatural yang berbeda-beda dan sebuah misi penting dari dunia di masa depan.

Tom Baldwin (Joel Gretsch) dan Diana Skouris (Jacqueline McKenzie)adalah dua orang agent NTAC (National Threat Assessment Command) yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini. Keponakan Tom, yang bernama Shawn (Patrick Flueger), adalah salah satu yang kembali. Shawn adalah seorang healer atau orang yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang lain.  Kyle(Chad Faust), anak Tom satu-satunya, adalah merupakan penghubung dengan masa depan yang akan menguak semua misteri di dalam serial ini.

Maia Ruthledge (Conchita Campbell), adalah korban pertama yang menghilang sejak 60 tahun yang lalu dan merupakan salah satu yang kembali. Usianya masih sama ketika ia menghilang, tidak kurang satu haripun. Saat ia kembali, seluruh keluarganya telah meninggal dunia. Maia kemudian diadopsi oleh Diana dan tinggal bersamanya. Lily (Laura Allen) yang menikah dengan Richard (Mahershalalhashbaz Ali), diketahui hamil dan melahirkan isabelle. Isabelle memiliki kemampuan supranatural yang tidak terbatas dan seringkali menyeramkan.

Sebagian dari 4400 orang yang kembali ini mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Tidak heran karena sebagian besar anggota keluarga sudah mengira bahwa mereka telah meninggal dunia. Tiba-tiba saja mereka kembali, padahal sudah banyak perubahan yang terjadi pada kehidupan yang telah mereka tinggalkan.

Adalah Jordan Collier (Billy Campbell) , seorang multimilyuner yang juga salah satu 4400, mempunyai ide untuk menyatukan kaum 4400 dalam sebuah lingkungan yang disebut The 4400 Center. Ia menyadari bahwa kemampuan para 4400 terhubung dengan kesadaran bahwa mereka memiliki misi dari masa depan untuk memperbaiki dunia yang saat ini mereka tinggali.

Directors: John Behring, Morgan Beggs, Milan Cheylov

Link : http://www.usanetwork.com/series/the4400/

Maaf, Saya Menghamili Istri Anda – Sebuah Pemikiran

GENRE                          : Drama Komedi

PEMAIN                        : Ringgo Agus Rahman, Mulan Kwok, Shanty, Eddie Karsito,

  M. Miftahur Rizky, T. Rifnu Wikana

SUTRADARA                  : Monty Tiwa

PENULIS NASKAH           : Monty Tiwa

PRODUSER                     : Novi Christina, Rudi Soedjarwo, Leo Sutanto, Elly Yanti Noor

DISTRIBUTOR                : SinemArt Pictures

DURASI                                     :

KLASIFIKASI PENONTON  : Dewasa (18+)

TANGGAL RILIS             : 21 Juni 2007

Maaf2_1 Rudi Soedjarwo, sutradara film Ada Apa dengan Cinta?, Rumah Ketujuh, 9 Naga, Tentang Dia, dan Mengejar Mas-Mas, tahun ini memproduseri beberapa film sekaligus. Setelah Mendadak Dangdut dan Pocong 2, Rudi kembali menggebrak dunia perfilman dengan memproduseri sebuah film dengan judul yang tidak biasa.  Saking tidak biasanya, film ini sudah mengunduh protes sebelum penayangan perdananya di bioskop-bioskop. Mulai dari Keluarga Besar Simamora se-Jabotabek yang mengajukan keberatan atas penggunaan nama marga mereka tanpa ijin di dalam cerita tersebut. Kisah hidup salah satu tokoh dalam cerita tersebut, yaitu Lamhot Simamora berikut kisah pekerjaan dan keluarganya, dianggap sama dengan kisah salah satu anggota Keluarga Besar Simamora. Selain itu ada keberatan dari masyarakat di berbagai surat pembaca di media massa atas penayangan judul film yang dianggap tidak senonoh dan tidak sesuai dengan budaya ketimuran Indonesia, sampai adanya isu tentang ras Jawa, Batak dan Ambon.

Film yang diproduksi bersamaan dengan film Pocong 2 dan Mendadak Dangdut ini, mengisahkan seorang laki-laki bernama Dibyo (Ringgo Agus Rahman), pengangguran yang sangat terobsesi menjadi artis terkenal. Meskipun sering bermain di sinetron, tapi selalu hanya sebagai figuran dan tanpa dialog. Karena sering berkhayal dan ngawur, Dibyo dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai figuran dan banyak tim produksi sinetron yang malas memakainya.

Tidak hanya itu, dalam menjalin hubungan dengan wanita pun ia kurang beruntung. Dibyo sering kali dicampakkan wanita setelah mereka tahu siapa Dibyo sebenarnya. Tapi suatu saat, kesialannya berhubungan dengan wanita itu pun berubah ketika dia bertemu dengan Mira (Mulan Kwok). Hubungan mereka ini kemudian malah mengakibatkan Mira hamil. Mira meminta Dibyo untuk tanggung jawab.

Dibyo langsung saja setuju untuk menikahi Mira, tapi tidak semudah itu menikahi Mira yang ternyata berstatus istri orang lain walaupun ia sudah berpisah ranjang. Untuk bisa menikahi Mira, Dibyo harus meminta ijin kepada suami Mira, Lamhot Simamora namanya, seorang kepala preman bersuku Batak yang sangat ganas. Meski sempat ngeri, Dibyo memberanikan diri menemui Lamhot.

Dibyo lagi-lagi terjebak ditengah-tengah perkelahian antar geng preman. Secara tidak sengaja, Dibyo berhasil menyelamatkan nyawa Lamhot. Sekali ini Dibyo cukup beruntung. Dia benar-benar dianggap pahlawan oleh Lamhot dan diajak tinggal bersamanya. Belum lagi tuntas persoalan itu, kemudian timbul kesalahpahaman yang membuat Lamhot memaksa Dibyo untuk menikahi Butet (Shanty), adik perempuan Lamhot.

Mengambil nama kawan karibnya John, Dibyo mengaku sebagai orang Batak dari Pulau Samosir. Sejak itu Lamhot semakin mempercayai dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Simamora. Dibyo malah dipercayai untuk memimpin geng Lamhot.  Terkenal karena pengecut, tukang tipu dan ketidak-beraniannya berkelahi, Dibyo dan kawan karibnya John mencari segala cara untuk menghindari perkelahian antar geng.

Diakhir cerita yang ditulis oleh Monty Tiwa ini, Dibyo yang semula digambarkan sebagai seorang pengecut, mendadak berubah menjadi orang yang berani dan jujur mengungkapkan fakta. Ia mengaku bahwa ia sama sekali bukan orang Batak dan ia mengaku bahwa dirinya telah menghamili istri Lamhot, yaitu Mira.

***

Singgungan mengenai ras Jawa, Batak dan Ambon disampaikan dengan bentuk komedi satir. Sedemikian satirnya hingga penonton yang kebanyakan adalah remaja ataupun anak muda, sama sekali tidak menganggap film yang disutradarai pertama kalinya oleh Monty Tiwa ini mengandung unsur SARA. Bagi yang menemukan unsur SARA didalamnya, kemungkinan juga akan menuai protes melihat bagaimana suku Jawa, Batak dan Ambon didudukkan di dalam film ini.

Orang Batak dan Ambon digambarkan sebagai suku yang beringas dan menganggap bahwa kekerasan dapatlah menyelesaikan segalanya. Mereka tegas, mudah mengambil keputusan, dan kuat rasa persaudaraan diantara mereka. Orang Jawa digambarkan sebagai kebalikannya. Mereka, sebagaimana diwakili oleh tokoh Dibyo, diceritakan sebagai pemalas, pengangguran, ingin kemudahan dalam hidup, pengecut, dan dianggap gila. Bahkan seorang anak kecil menyadari betapa bodohnya tokoh ini. Meskipun pengecut, namun di akhir cerita Dibyo digambarkan sebagai orang yang dapat menghindari pertengkaran dan pertumpahan darah. Kejujuran Dibyo, keberaniannya mengungkapkan fakta dengan risiko yang akan dihadapinya kemudian, adalah sebuah moral story yang bisa diambil dari film ini. 

Minimal aku ini orang bodoh, bukan orang yang suka menyiksa atau membunuh orang lain,” kata Dibyo kepada Mira. Seorang Dibyo dengan keminimalisannya dalam bertindak, mewarnai film ini dengan kebodohannya, keluguannya, dan kepengecutannya. Jika setiap orang mengeluarkan kemampuannya secara minimal, maka yang terjadi adalah Indonesia yang kita alami sekarang ini. Entah apa yang akan dialami oleh Indonesia jika setiap orang mengeluarkan kemampuan mereka secara maksimal. Di lain pihak, orang Jawa dengan keminimalisannya saja, yang digambarkan dengan begitu jelas oleh tokoh Dibyo, sudah dapat mencegah pertumpahan darah diantara kedua suku lainnya, yaitu Batak dan Ambon. Lantas bagaimana jika suku Jawa mengeluarkan kemampuan maksimal mereka?

Melihat film ini dengan gaya rasisme, aku mengharapkan Monty Tiwa sebagai seorang penulis cerita sekaligus sutradara, dapat mengemasnya dengan lebih bijak. Disadari bahwa pembuatan film ini bergenre komedi satir dan bukan sebuah film bernilai kebangsaan. Tetapi apakah film yang sarat dengan nilai-nilai pemersatu bangsa tidak laku untuk dijual? Masihkah ide untuk mengolok-olok kesukuan dapat dianggap sebagai bahan pelajaran berbangsa, terutama bagi remaja dan anak muda, target penonton dari film ini? Bukankah kebhineka-tunggal-ikaan itu justru menjadi pengikat kebangsaan kita, atau tidak lagi? Wallahu’alam bishowab [RN, 290607].

***

Referensi lain tentang film ini :

http://www.sinemart.com/maafsayamenghamiliistrianda/

http://www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1676

http://www.ruangfilm.com/?q=katalog/indonesia/maaf_saya_menghamili_istri_anda

http://www.hitamputih.net/forum/showthread.php?p=6139

http://www.rileks.com/home/detnews/20062007114100.html

http://www.kapanlagi.com/h/0000171752.html 

http://www.kompas.com/ver1/Hiburan/0706/21/073320.htm 

Nagabonar_7 Nagabonar [Dedy Miswar], si pencopet ulung yang menyebut dirinya jenderal pada jaman penjajahan dulu, sekarang kembali lagi. Ia kini tidak lagi berprofesi sebagai pencopet dan film inipun tidak lagi menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan Belanda di daerah Sumatra Utara. Nagabonar kini adalah pemilik ribuan hektar kebun kelapa sawit dan memiliki seorang anak yang bernama Bonaga [Tora Sudiro], lulusan S-2 dari luar negeri, pintar, pekerja keras, berbeda dengan bapaknya yang tak bisa baca-tulis. Dia memiliki naluri bisnis yang tinggi dan berjiwa pemimpin.

Cerita Nagabonar jadi 2 sangat sarat dengan nilai-nilai cinta negeri, cinta orang tua, cinta lawan jenis, dan cinta sahabat yang membuat film ini menjadi sangat berbeda dibanding film pertamanya. Dalam sekuel tersebut, Nagabonar diceritakan bermasalah dengan anak semata wayangnya Bonaga (Tora Sudiro) yang ber nia t menjual perkebunan kelapa sawit warisan keluarga. Selain nilai-nilai cinta dan keluarga, Deddy juga mengisyaratkan nilai penting perjuangan dan sejarah kemerdekaan bangsa yang digambarkannya dengan keinginan Nagabonar untuk mengunjungi situs-situs bersejarah serta makam pahlawan.

Film Nagabonar Jadi 2 (produksi PT Bumi Prasidi Bi-Epsi dan PT Demi Gisela Citra, 2006) adalah sebuah sekuel dari film Nagabonar karya Asrul Sani yang diproduksi pada 1986. Kala itu, film Nagabonar merupakan film terbaik versi Piala Citra FFI 1987. Deddy Mizwar, yang memerankan tokoh Nagabonar, turut sukses menyabet gelar aktor terbaik di ajang FFI.

Film Nagabonar jadi 2 yang didedikasikan kepada almarhum Asrul Sani, budayawan yang menciptakan tokoh Nagabonar ini, disutradarai oleh Deddy Mizwar. Penulis naskahnya adalah Musfar Yasin, seorang penulis skenario terbaik Festival Sinetron Indonesia 2005 dan Festival Film Indonesia 2005. Darius Sinathrya (sebagai Pomo), Uli Herdinansyah (sebagai Ronny), dan Michael Mulyadro (sebagai Jaki) menjadi sahabat baik Bonaga dan mereka berempat memainkan perannya sebagai figur anak muda metropolis yang sangat bersemangat dalam berkarya, namun tetap menjadi nilai-nilai yang ada. Wulan Guritno berperan sebagai Monita, wanita yang dicintai oleh Bonaga. Yang menarik adalah figur seorang Umar [diperankan dengan baik oleh Lukman Sardi], pengemudi Bajaj sekaligus seorang ustadz yang ingin agar anaknya hormat kepada kakeknya yang juga seorang pejuang. Kesemua tokoh ini menjadikan Nagabonar Jadi 2 sebuah film layak tonton yang menarik untuk dilihat, diresapi maknanya, kocak sekaligus menyedihkan hingga berlinang air mata. [RN,050407]

Hdaytheholiday  Hday_1024x768_03_1

Bagaimana jika dua orang wanita ingin melepaskan diri dari rasa patah hati, lalu saling bertukar rumah selama dua minggu? Apa yang akan terjadi dengan kehidupan mereka?

Columbia Pictures dan Universal Pictures berkolaborasi membuat sebuah film komedi roman yang berjudul The Holiday (2006). Film berdurasi 2 jam 12 menit ini dirilis tanggal 8 Desember 2006 di Amerika menjelang hari

Natal

dan tanggal 14 Februari 2007 di Indonesia menjelang hari Kasih Sayang.

Film garapan sutradara dan penulis naskah Nancy Meyers (Something’s Gotta Give, What Women Want) ini berkisah tentang Iris Simpkins (Kate Winslet), seorang kolumnis pernikahan pada Daily Telegraph Newspaper di Inggris, jatuh cinta kepada rekan kerjanya yang akan menikah dengan wanita lain. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Sementara itu, di

Los Angeles

, Amanda Woods (Cameron Diaz), pemilik sebuah perusahaan advertising yang sering membuat trailer film, baru saja berpisah dengan kekasihnya yang mengaku berselingkuh. Kepatah hatiannya memaksanya ingin segera menjauh dari

Hollywood

.

Ingin sembunyi dari masalah yang mereka hadapi, keduanya lantas mencari program pertukaran rumah di sebuah website di internet dan sepakat untuk mengikuti program itu selama dua minggu. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana dua wanita yang berjarak 6000 mil dan belum bertemu ini bisa saling percaya untuk menukar rumah mereka, meskipun hanya dalam dua minggu saja. Aku dapat melihat betapa bahagianya seorang Iris yang berasal dari sebuah

kota

kecil Surrey di Inggris, ketika datang ke

kota

besar seperti

Los Angeles

. Suka cita di wajahnya dan binar-binar di matanya sungguh menyenangkan untuk ditonton. Dan aku dapat melihat bagaimana pertukaran rumah ini bergulir menjadi kejutan yang tidak dapat dibayangkan semula oleh keduanya. Di Surrey, Amanda bertemu dengan kakaknya Iris, yaitu Graham (Jude Law), sementara di

California

, Iris bertemu dengan seorang komposer film bernama Miles (Jack Black).

+++++++++++++

Film ini bercerita tentang cinta, kehidupan dan keberanian untuk berubah. Seringkali yang terjadi dengan kita semua adalah ketidakmampuan untuk bergeser dari zona kenyamanan kita. Hal pertama yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang adalah berpelukan dengan kesedihan. Biasanya mereka merasakan berapa merana diri mereka dan setelah sekian lama bergumul dengan kesedihan tersebut, tiba-tiba menyadari bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk keluar dari kesedihannya itu.

Itulah yang terjadi dengan Amanda dan Iris di film ini. Disatu sisi mereka masih merasakan kesedihannya, namun di sisi lain mereka bertekad untuk melarikan diri dari masalah. Cara yang mereka lakukan sebenarnya tidaklah sepenuhnya benar. Lari dari masalah tidak sama dengan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sama seperti hidup dengan memiliki pintu belakang. Jika kita tidak suka dengan kehidupan yang sedang dijalani saat ini, lantas lari sekencang-kencangnya melalui pintu belakang. Hidup dengan memiliki pintu belakang sama artinya dengan bertindak sebagai pecundang. Alih-alih menyelesaikan masalah, ternyata malahan menumpuk masalah dan menunda kekacauan sampai saatnya meledak.

Amanda dan Iris adalah contoh yang sangat tepat untuk dapat menunjukkan kejantanan (kewanitaan, tepatnya-red) mereka. Mereka akhirnya dapat memutuskan yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Mereka menyudahi cinta yang tidak berujung. Mereka bertekad untuk menjadi diri mereka sendiri yang enerjik, penuh dengan kekuatan dan cinta. Akhirnya dengan cara penerimaan diri, mereka terjatuh ke dalam cinta yang mereka inginkan sejak awal.

Film ini di negara asalnya dirating PG -13 untuk adegan seks dan bahasa kasar, di Indonesia di rating menjadi film untuk Dewasa. Aku setuju dengan keputusan Badan Sensor Film. Menurutku, rating PG-13 tidaklah tepat untuk negara Indonesia, karena di dalam film ini terlalu banyak adegan seks dan minum alkohol. Jika ratingnya tetap PG-13, bisa-bisa anak muda di Indonesia tambah terjerumus dengan minuman keras. Karena aku yakin, meskipun diberi rating PG-13 tidaklah mungkin anak-anak usia 13 tahun menonton dengan orang tuanya dan mengharapkan orang tua memberikan guidance kepada mereka tentang apa yang ditontonnya kali itu.

Sayangnya, film ini berat sebelah. Cerita di awal yang dimulai dengan kedua wanita, Amanda dan Iris, mendadak di tengah film hanya difokuskan kepada Amanda saja. Cerita tentang tokoh Iris tidak begitu banyak dan seimbang dibandingkan dengan Amanda. Juga mengenai percintaan Iris tidak dijabarkan segamblang Amanda. Padahal bisa jadi ceritanya akan mengalir lebih menarik karena tokoh yang dibawakan oleh kate Winslet ini digambarkan sebagai wanita yang enerjik.

Selebihnya, film ini sangat ringan dan menarik. Padat dengan makna tentang kehidupan. Banyak hal yang bisa dipetik dari film ini, yaitu tentang kegigihan untuk menyayangi diri sendiri dan memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri. Jika cinta adalah yang terbaik bagi diri kita, maka persembahkanlah cinta yang sejati bagi diri kita. Tidak perlu terlalu larut dengan kegagalan cinta sebelumnya. Terus maju dan selalu melihat dari sisi yang lain, mencoba dari sisi yang berbeda. [RN, 210207].

Trailer film dan galery fotonya dapat dinikmati di : http://www.sonypictures.com/movies/theholiday/index.html

Program pertukaran rumah dapat dilihat di : http://www.homeexchange.com/

+++++++++++++++

Bagi anda yang sudah menonton, berikut ada wawancara antara

Nancy

dengan Lucy O’Loughlin dari Femalefirst.

http://www.femalefirst.co.uk/entertainment/Nancy+s+Holiday+cheer-27477-page2.html

Q: So what sparked the idea for ‘The Holiday’?

A: I thought of the idea when I was planning a vacation and found a site that arranges house swapping.

I had no idea this kind of thing ever existed. On the website, I read about all these fantastic houses. Eventually I realised I would have to trade mine to get one.

I thought it would be a wonderful starting point of two women who are both running away from something. Amanda and Iris are both down in the dumps and realise they must do something about it. Swapping houses becomes the first step in taking their lives back.

The movie is about leaving your baggage behind and opening your eyes to what’s in font of you and what you’re really feeling.

Q: I hear you wrote the part of Miles especially for Jack Black. Were you nervous about asking him to play the part?

A: Well I asked a friend to introduce me to Jack because I wanted to write it for him and I thought if he doesn’t like it I don’t want to spend the next year having him in mind if he absolutely would never be in a movie like this.

So a friend of mine called Jack and asked him if he would meet me and luckily he was interested in it and he did like it. It is such a good experience for me writing with somebody in mind so I thought I would try it on this movie and I thought of Jack Black.

I saw him in ‘

School

of

Rock

‘ and I thought he was the cutest guy I had seen in a movie for so long and I just fell in love with him, honestly, I just thought he was just incredible.

So Jack came over to my house, I made him some coffee and I told him the idea. He asked me, ‘Have you seen my work’, and I said, ‘Yes, I’ve seen your work I think you’re fabulous.’ I told him that he would be starring with Kate Winslet and he said, ‘You want me in a movie with Kate Winslet’, and I said, ‘Yeah I do!’

It’s funny because when I told Kate that I wanted Jack Black she was so excited and I immediately thought I was onto something.

Q: Was it a big culture shock coming to shoot the film in

England

?

A: Oh my god it is so cold! So when we came here that was the only thing that was really different for us.

And of course people said to us, ‘You know your movie has got snow in it but it never snows here.’ I was like, ‘Really? But it snows in ‘Bridget Jones!’

I mean I don’t live here so I can only go by the movies, and they said, ‘Yeah that’s just the movies it never snows here.’

So we hired a company to make fake snow and then in the first week of shooting it snowed maybe three times.

Q: Did Kate and Jude help you out with the culture difference between here and the

US

?

A: They were really good with me. I told them if there is something in there that doesn’t sound right or doesn’t feel right just tell me.

And on occasion Kate would say, ‘I had a line that said about throwing something in the trash’, and she told me she would never call it that, which is something I wouldn’t have known.

Q: Jude always looks quite moody in his films did you have to remind him to smile?

A: Well I did have to remind him, but you know actors are like that sometimes, they do what is comfortable for them. I remember on ‘What Women Want’ Mel Gibson would come in sometimes like a tough guy in the mornings. And I would have to say, ‘Mel, it’s not that sort of movie, you don’t have to act tough.’

And Jude too, he has played a lot of dark characters and more serious films and so sometimes you have to say come up, come out to play, but he was really game.

Q: In one scene Jude has to cry. Did he put up a fight?

A: The great thing about Jude crying in the movie is that I was prepared for him to be like any good male movie star and say, ‘You don’t really want me to cry?’ And then I would have to say, ‘Yes, actually you must cry because it is part of the scene.’ Instead what Jude took a private moment away from everyone on set to prepare himself and I saw him in the corner of my eye weeping.

Q: Is it true that the part of Graham was originally written for Hugh Grant?

A: Where did you hear that…? Hugh Grant?

Hugh is a great actor but I wanted Jude. He to me is the biggest surprise of the movie. Even though I wanted him in casting and I thought he could do it he just showed me how brilliantly he could cross into this genre.

Q: What was it like working with Cameron Diaz?

A: She is a doll. She is delightful. She is absolutely willing to try anything. If I said to her, ‘Lets try you walking down the stairs and bumping your head’, she would be like, ‘Yeah, OK cool!’ She is up for everything and really extraordinarily gifted at physical comedy, I can’t think of any other women that are that funny, or that can do these sorts of scripts that well.

Like when she is slipping about on the ice outside. We brought in a stuntwomen because of course we don’t want Cameron breaking her leg on the first day of shooting.

So the stuntwoman turned up and she is an expert and Cameron and I are watching her on the monitor and Cameron is like, ‘I don’t find it funny the way she is doing it, do you mind if I try it?’ So I said, ‘Honey, I would love you to try it I just don’t want you to get hurt.’

So she got up and did it in one or three takes. I loved working with her, she is a great girl.

Q: Did you have her in mind when you wrote the part?

A: I did yeah. But a lot of people write movies with Cameron in mind and want Cameron Diaz. She is a terrific actress and a natural.

She is a real comedienne and one of the great rewards of working with her is how much she makes me laugh. She sometimes reminds me of Goldie Hawn, whom I love. She has very similar comedic instincts.

Hday_1280x1024_04 

Q: How did you know Eli would be right for the role of retired scriptwriter Arthur?

A: Eli’s autobiography came out about the time that I was casting the movie, and I saw him being interviewed. That was it. He is in many ways exactly the character I wrote. He’s had a phenomenal career. He’s worked with many great legends. He’s 90 years old and a true

Hollywood

person. He understood perfectly the kind of man I was writing about.

Q: Did he have many anecdotes on set?

A: He was so full of anecdotes. Everybody was just so interested in what he had to say. There are so many stills from this movie of Eli sitting in a chair and all of us surrounding him listening.

Eli has worked with all the great directors. He told stories about his first day of shooting with Carey (Grant). And Clarke (Gable). You don’t usually hear

Clark

mentioned that often on a modern day film set, it was really cool.

It really was quite fascinating. He was absolutely wonderful to direct, because every time I gave him a direction his response to me was, ‘Thank you.’ Everything is a positive for him, it was a real life lesson.

Most 90-year-olds are not starring in movies, he had such a positive way of looking at life it was quite amazing actually.

Q: In the movie, Iris befriends Arthur and interestingly he is the one who really helps her discover herself. Did you plan for this relationship when you were writing?

A: Writing for me is like a super-natural experience. Somehow it comes out. People ask me, ‘How did you get that?’ and, honest to god, I don’t know.

Do you ever have that experience when you are driving in your car and you get to the place and you know where you started from, but you don’t quite remember the details along the way?

During my writing process I like to go for a walk in my neighbourhood after lunch.

And there was this man in my neighbourhood who I often saw walking who looked really quite ill and who used a walker.

I would find myself after my walk coming back to my computer and thinking about him and wondering who he was and the next thing I know he is in my movie as Arthur.

I just started writing him in and the kinda neat thing about that is last week I saw him completely well, walking by himself and he had no idea that he is one of the main characters in the movie.

Q: Did you find the actors learned from one another?

A: Jude has told me that he learned a lot from watching Cameron because she is much more used to this kind of film. And I wasn’t aware of it at the time but afterwards he told me he had learned a lot from her and the way she would approach a scene.

And in terms of Jack and Kate I just know that Kate could not keep a straight face with Jack. We have the best outtakes of any movie I have ever done and a lot of them are just Kate laughing it up.

Q: You have such a great cast in this film, but I imagine casting must be difficult in terms of budget constraints? Sometimes.

A: Definitely because undoubtedly you come across somebody who you can’t get in. But I think every writer writes with somebody in mind. A lot of writers when they are asked who they wrote the part for will say, ‘Oh nobody’, and I think, ‘No, that can’t be true.’ They have to secretly want somebody. And sometimes we don’t get everyone we want but sometimes we do! Sometimes we are lucky!

By Lucy O’Loughlin.

Additional reporting by Kate Sole.