You are currently browsing the tag archive for the 'Film' tag.
“Lebih baik memberi lebih banyak daripada menerima lebih banyak”, begitulah yang disampaikan oleh Pak Harfan (Ikranegara), sang Kepala Sekolah SD Muhammadiyah kepada Ibu Muslimah (Cut Mini), salah seorang guru baru di sekolah itu. Bersama Pak Bakri (Teuku Rifnu Wikana), seorang guru lainnya, mereka bertiga mempertahankan sekolah yang telah bertahun-tahun mendidik puluhan anak di desa Gantong, Belitong.
Tahun itu, mereka harus menerima 10 orang murid baru, agar sekolah mereka bisa terus memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak di daerah itu. Memang tidak mudah bagi sekolah private seperti SD Muhammadyah untuk terus bisa bertahan, terlebih dengan maraknya sekolah baru yang lebih mewah dan menjanjikan keberhasilan bagi para anak didik. Namun tentu saja, ketiga pendidik ini tidak gentar untuk terus memberikan yang terbaik dari diri mereka agar ke-10 murid baru mereka bisa mendapatkan pendidikan budi pekerti, agama dan ilmu pengetahuan yang setara bahkan lebih baik dibandingkan dengan sekolah lain yang lebih modern didaerah itu. Laskar Pelangi adalah cerita tentang semangat mengajar dan memberi yang tak pernah padam, meskipun begitu banyak cobaan datang silih berganti. Sebuah dedikasi mengajar yang luar biasa.
Mira Lesmana sebagai Produser dan Riri Riza sebagai Sutradara memang tidak main-main. Untuk merekrut para pemain dan demi memunculkan budaya dan kenaturalan jalan cerita, mereka menjalani proses hunting dan casting di Belitong dan akhirnya memilih 12 orang pelajar Belitong yang memerankan karakter Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, dan A Ling. Berbeda dengan versi novelnya, maka dalam versi sinema ini tidak semua tokoh diceritakan secara detil, hanya beberapa saja diantaranya, namun tidak mengurangi keasyikan jalan cerita yang disampaikan. Disamping ke-12 pelajar Belitong, Mira juga menampilkan para pemain profesional. 12 nama aktor profesional pun turut tampil meramaikan film ini, seperti Cut Mini, Ikranegara, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro, Slamet Raharjo, Alex Komang, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Robbie Tumewu, JaJang C. Noer, dan Teuku Rifnu Wikana.
Seperti Sinema dan Film lain yang diangkat dari sebuah novel, maka sinema Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel fenomenal dengan judul yang sama karangan Andrea Hirata (Bentang Pustaka, 2004) ini juga mengalami hal yang sama. Naskah ceritanya tidak bisa digambarkan sama persis dengan versi bukunya, tentu karena keterbatasan waktu, meskipun film ini telah berdurasi 150 menit. Miles Films dan Mizan Production ini terpaksa harus memotong sekian banyak halaman buku yang tidak mungkin dimuat seluruhnya ke dalam sinema yang dibuatnya. Bagi penonton film yang sudah membaca novel karangan Andrea, hal ini tentu tidak menjadi masalah, tetapi bagi penonton yang tidak membaca novelnya terlebih dahulu, seringkali bertanya maksud dari beberapa adegan dalam sinema tersebut karena potongan gambar hanya dibuat secuplik dan tidak banyak menjelaskan maksud dari tayangan yang disajikan.
Sinema ini tidak lagi banyak bercerita tentang Andrea atau Ikal, melainkan saya melihat sinema ini lebih banyak bercerita tentang perjuangan Ibu Muslimah yang membantu ke-10 anak didiknya untuk terus maju dan berkreativitas, meskipun sarana dan prasarana sekolah sangat terbatas. Menarik menyaksikan seorang guru membiarkan anak didiknya berkreasi dan mengeluarkan talentanya sendiri tanpa campur tangan sang guru. Itulah salah satunya dikala Mahar menjadi pimpinan pertunjukan atraksi pawai yang ditampilkan oleh murid-murid SD Muhammadiyah. Menarik menyaksikan Ibu Muslimah mengajak ke-10 anak didiknya belajar diluar kelas tidak hanya satu kali untuk mengajari mereka kearifan alam. Mirip dengan apa yang diceritakan Tetsuko Kuroyanagi dalam novelnya Toto-Chan.
Secara keseluruhan saya angkat topi dan memberikan 2 jempol tangan saya untuk karya Sinema terbaik di tahun ini! [RN,141008]
http://www.laskarpelangithemovie.com/
