You are currently browsing the tag archive for the 'jet li' tag.

Cast:
Jet Li as Huo Yuanjia
Shido Nakamura as Anno Tanaka
Sun Li as Moon/Yue Ci
Yong Dong as Nong Jinsun
Hee Ching Paw as Yuankia’s Mother
Ting Leung as Lai
Yun Qu as Grandma
Nathan Jones as Hercules O’Brien
Brandon Rhea as German Fighter
Anthony De Longis as Spanish Fighter
Jean Claude Leuyer as English Boxer
Mike Leeder as Fight Referee
Jon T. Benn as American Businessman
John Paisley as English Businessman
Collin Chou as Yuanjia’s Father
Masato Harada as Mita

Directed by Ronny Yu

Diangkat dari sebuah kisah nyata di negeri Cina, seorang ahli bela diri bernama Master Huo Yuan Jia (1869-1910) dari Tian JIn, cerita ini diangkat. Pada masa itu, negeri Cina sangat suka bertarung untuk memperebutkan gelar yang terbaik. Yuan Jia (Jet Li) yang Sejak kecil dilarang oleh sang ayah relajar bela diri, diam-diam memperlajari ilmu bela diri dan ingin sekali mengembalikan martabat keluarga Huo yang jatuh.

Setelah Dewasa, sedikit demi sedikit pertarungan selalu ia menangkan. Sayangnya, berbarengan dengan kemenangannya, ia menjadi sombong dan kurang memperhatikan keluarganya. Suatu hari dengan pongahnya ia bertarung dengan Guru Qin yang menyebabkan tewasnya sang guru tersebut. Anak angkat dari Guru Qin pun membalas kematian ayahnya dengan membunuh ibu dan anak Yuan Jia. Karena sedih dan mengalami depresi, Yuan Jia akhirnya berkelana hingga ke negeri Siam. Disana ia dirawat oleh seorang nenek dan cucunya yang buta bernama Yue Ci (Sun Li).

Bersama Yue Ci dan hidup selama beberapa tahun di desa ini, Yuan Jia akhirnya menyadari apa yang hilang dari dirinya dan menemukan prinsip hidup yang disebut Wushu. Ia akhirnya mengerti tindakan yang dilakukan oleh ayahnya pada pertarungannya yang terakhir. Ia menemukan bahwa bela diri bukan semata-mata dipelajari untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk menahan emosi. Ia juga belajar menghargai orang lain dan bersikap baik kepada sesama agar hidup menjadi lebih terntram. Ia menyadari bahwa belajar bela diri bukan untuk menunjukkan kekuatan kita kepada lawan tetapi semata-mata untuk menyadari kekurangan diri sendiri.

Membandngkan The Last Samurai dan Fearless, saya menemukan sebuah cerita yang kurang lebih sama. The Last Samurai dibuat pada tahun 2003 sedangkan Fearless tahun 2006, Namur kdua film ini menceritakan era yang kurang lebih sama. The Last Samurai bercerita tentang negeri Jepang pada era Restorasi Meiji tahun 1862-1869 sedangkan Fearless menceritakan kisah hidup master Yuan Jia tahun 1869-1910.

Pada era yang sama, baik di Jepang maupun di Cina sedang terjadi perubahan yang sangat penting, yaitu masuknya unsur Barat ke dalam negeri ini. Perlahan-lahan segala sesuatu yang berbau kebarat-baratan mulai muncul, perubahan cara berpakaian, mulai masuknya serdadu iIdia, Inggris, Eropa, Amerika ke negeri ini dan tentunya perubahan pola pandang bahwa bertindak seperti orang Barat adalah suatu kemajuan dan orang yang tidak ingin berubah dianggap sebagai seorang pemberontak.

Negeri Jepang dan Cina adalah dua negeri yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai hidup. Jepang dengan Bushido dan Cina dengan Wushu. Keduanya adalah nilai hidup kejujuran, kehormatan, keberanian, saling menghargai dan masih banyak nilai lainnya yang sangat positif dan baik. Kehadiran pihak Barat dengan taktik politiknya berusaha menghancurkan nilai-nilai hidup yang diyakini ini. Dengan cara itu, era samurai di Jepang berakhir dan di negeri Cina sendiri sebagaimana ditunjukkan dalam Fearless, para jagoan bela diri sengaja dibunuh atau dikalahkan agar rakyat Cina tunduk dan patuh pada kekuasaan baru ini.

Saya percaya pada era itu pula di Indonesia, leluhur kita juga menerapkan prinsip hidup semacam Bushido atau Wushu. Entah kemana kini prinsip itu pergi dan banyak sekali rakyat Indonesia kini yang tidak mengenali, sehingga rakyat di negeri kita ini jauh dari kehidupan jujur, bersemangat, dan rasa saling menghargai.

Selamat Hari Pahlawan [RN/101108].